kyrie eleison

keep thinking, dude, keep thinking…

naga bonar jadi 2

bilang gw kampungan, gw emang baru nonton ini film… menemani pengerjaan TA lah…

Menurut gw, pelem ini baguuuusss banget. gw ampe terharu waktu deddy mizwarnya teriak-teriak di patung jendral sudirman, “turunkan tanganmu jendraaaaallll…..” buset. dan waktu dia menghormat ke patung sukarno-hatta, gw ampe merinding

gw jadi teringat temen gw, yang bapak kosannya  mantan pejuang. nah, waktu bapak ini ketemu ama gw, dia bilang, teman saya juga ada dulu, pejuang, gagah berani, pengikut sukarno dan dia bermarga simatupang. hola, opung ternyata.

anyway, yang gw liat dari pelem ini,,,  betapa orang dulu itu cinta ama bangsa ini. sangat cinta malah. mungkin karena mereka liat ngerasain gmn itu penjajahan, dan mereka yang membuat negara ini. merekalah yang meletakkan dasar2 negara ini, pengen bangsa ini kaya apa, mereka yang merumuskan.

sepertinya generasi kita emang kurang mengerti, cuma taunya protes sana-sini. dan nilai-nilai kita udah beda, apa yang kita anggep keren itu, kuliah tinggi2, s2 di luar negri, punya uang yang banyak. mungkin orang dulu ga melihat dari kacamata kita sekarang ini. beda banget lah

bukan berarti gw menentang upaya orang untuk sekolah, buka usaha ato apa, tapi kalo gw liat ada orang yang mengorbankan hidupnya untuk bangsa dan negara, walaupun dia ga dikenal sebagai orang yang berkorban,  hanya mati aja, gw jadi merasa malu. sangat malu dengan semua keegoisan yang gw lakukan terhadap bangsa ini dn hal-hal yang ga pernah gw pikirkan untuk gw lakukan buat bangsa ini.

maksud lu apa na? maksud gw hanya, dari apapun yang kita kerjakan, ayo kita buat Indonesia yang lebih maju dan makmur…

August 29, 2007 Posted by annadisini | Uncategorized | | No Comments Yet

Sanctus

Sangtus!! temen yang satu ini, seringkali dipanggil The Great Sangtus, Tus aja kalo mau, ato kadang-kadang dibilang pasangan homo Ronald. Sampai ada teka-teki: item, malu-malu, ngetik,,, apa coba? jawabannya: Sangtus lagi ngoding.. xixixi

anyway, bukan karena saya salah satu fans-nya Sangtus, ato saya dan sangtus berasal dari kota yang sama, ato karena sangtus baru beli laptop baru ato karena saya dan sangtus belum lulus juli ini, ato karena berat saya dan sangtus ga jauh beda, ato karena sangtus dan saya…. stop2! (sumpah, sangtus lagi bersin2. Mangap Tus, mangaaaappp) Saudara, saudara, alasan-alasan tersebut diatas tidak cukup merepresentasikan alasan saya menulis tentang sangtus..

…………….

Pada malam yang sejuk di akhir Juli, dalam sebuah aria yang indah, di bawah lengkung kubah sebuah Gereja, sekali lagi, seorang anak manusia mengakui kekudusan Tuhan. Sanctus, berarti kuduslah Tuhan. Kudus berarti pure, TIDAK bersalah, TIDAK berdosa, TIDAK ada dalam diri-Nya yang bisa dipersalahkan. Dalam pikirannya Dia dinyatakan bersih, hatinya murni, lebih dari emas 24 karat, perilakunya tulus.

Kekudusan Allah tidak akan terpikirkan oleh manusia dengan akal sehatnya sendiri. Tidak semudah membandingkan putihnya baju yang dicuci dengan SURF dengan deterjen lain. Manusia, dengan egonya sebagai manusia, seringkali bilang ke dirinya sendiri, “ah, aku lebih baik dari dia kok, aku ga membunuh, aku ga mencuri, ga nyontek, ga pacaran sembarangan.” Dengan kodratnya sebagai manusia, manusia juga sering bilang, “Dia kan Allah, wajar kalau kudus, jangan dibandingin dengan gw dong.” Padahal waktu kita mengatakan diri kita lebih baik dari orang lain, kita udah sombong. Atau waktu kita ga rela memberikan kepunyaan kita ke ORANG LAIN yang butuh, kita udah ga kudus. Karena itu berarti kita mencintai dunia ini. Sikap kita yang ga mau melihat kekudusan Allah juga nunjukin ke-aku-an kita, kita ga mau dinyatakan bersalah oleh Allah.

Manusia ga mungkin bisa sadar betapa berdosanya kita, sampai kita mengenal siapa Allah serta tingginya standar kekudusan-Nya. Dan manusia ga bisa juga mengenal Allah kalau Allah ga memperkenalkan diri dan memberikan Roh-nya yang Kudus, yang bisa jelasin kekudusan Allah pada kita. Dan sebagian manusia yang sudah mengenal Allah ga boleh juga menyalahkan ketidak kudusan orang-orang yang tidak mengenal Allah, karena mereka memang tidak mengenal Allah. Jadi tentu mereka wajar ga kudus. Dari sinilah kita mengenal prinsip jangan menghakimi… Karena Allah yang kudus aja bersabar, masakan kamu yang berdosa harus menghakimi?

———————————–

Aku bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati, untuk menghidupkan semangat orang-orang yang rendah hati dan untuk menghidupkan hati orang-orang yang remuk.

August 2, 2007 Posted by annadisini | thoughts | | 2 Comments

bintang

senyummu adalah kerlip bintang
yang menjadi rangka sebuah kubah
dan akan kusebut nantinya sebagai rumah

August 2, 2007 Posted by annadisini | poems | | No Comments Yet